Ternyata…. Sampe juga di Perancis. Menjejakkan kaki di Perancis di tanggal 2 Sept 2010. Sekarang sudah tanggal 31 Okt 2010. Hari pertama untuk memundurkan waktu 1 jam (day light saving) karena pergantian musim. We’re approaching winter. Moga jacket dan coat saya bisa nahan dinginnya Eropa. *ketakutan
Hari ini, saya ingin menceritakan pengalaman liburan saya kemarin. Ada libur Toussaint selama satu minggu. Saya dan teman-teman (berjumlah 9 orang) memutuskan untuk pergi ke Paris. Tanggal 26 oct malam kami berangkat. Tiba di Paris, langsung bermalam di Hotel. Katanya sih hotel murah. Lumayan lah untuk orang Indonesia macam saya yang sudah terbiasa tidur di tempat yang jauh lebih
sederhana J. Meski satu hal yang paling mengganggu adalah kamar mandinya yang collective alias bareng-bareng cowok-cewek! Dan pintu yang harus dibuka dulu supaya bisa menyiram wc. Sama ketika saya pee di wc umum di dekat Eiffel; pintu harus dibuka dulu, baru bisa menyiram wc-nya. Bayangkan bau pesing yang bisa dihirup dan air seni yang bisa dilihat oleh orang-orang yang sedang antri di depannya. Ckckck…
Esok harinya kami mengunjungi beberapa tempat, ditemani oleh 7 orang teman kami yang tinggal di sana. Louvre, Pont Neuf, Notre Dame, Eiffel, dan beberapa lain. Untuk melakukan kunjungan seharian seperti ini, apalagi di Paris, don’t you ever use your high-heels ! Hidup tanpa kendaraan pribadi
di Perancis itu harus siap “walk a lot“. Belum lagi perjalanan antar stasiun yang melelahkan. Belum lagi anak tangga yang naik-turun. *Sepertinya saya harus memotret betis saya sebelum pulang ke indo :p Perjalanan hari itu kami akhiri dengan makan malam bersama di restoran Vietnam. Uuuuh ga salah untuk memilih makan Pho di malam hari yang dingin.
Perjalanan di esok harinya hanya berlima, karena teman kami yang lain, berhalangan. Dengan bermodalkan peta, kami rela berpetualang demi memuaskan rasa keingintahuan kami akan Paris, tempat impian banyak orang.
Dan YA. Eiffel luar biasa indah di malam hari.
Rela antri panjang (Paris benar-benar kota yang tak pernah mati), rela bayar €13, rela berjuang melawan lelah, kantuk, lapar, dan angin kencang yang membuat jari-jari tangan saya kebas hampir beku. Dan semua itu terbayarkan ketika kami sampai di puncaknya. Elle est incroyablement belle!! Pemandangan kota dan lampu-lampu kota di sekeliling Eiffel benar-benar menghipnotis saya. Dan yang paling membuat saya bergetar adalah “ya Allah… saya ada di puncak menara Eiffel!!!”
Kami pulang larut sedangkan keesokannya kami harus kembali ke Angers di pagi buta. Tapi saya tidak merasa menyesal.
It was beautiful. Kapan lagi coba bisa ke Perancis?!?!