Archive for May, 2010

10 hari pasca kematian ncen

Masih belum juga hilang rasa sesak di dada begitu terbayang kematian Ncen.

Hari itu, 7 Mei 2010, jam 04:00 wita, suami saya meminta saya untuk menelpon balik. Ternyata dengan kebingungan dan kepanikan, kk menceritakan kondisi Ncen yang tiba-tiba berubah drastis. Pasalnya, begitu kk pulang kantor (sekitar jam 00 wib) Ncen masih ceria menyambut kedatangan kk. Memang anehnya, begitu disodorkan makanan, Ncen malah bermanja-manja dulu dengan kk. Tidak segera memakan ikan lele kesukaannya. Dan itu sudah terjadi selama beberapa hari. Ncen luar biasa manja ingin disayang-sayang. Sekitar jam 01 wib, kk dan Ncen pergi tidur.

Kepanikan dimulai sekitar jam 03 wib. Kk terbangun karena teriakan Ncen. Di kasur sudah ada poop dan pee Ncen. Ternyata Ncen sudah ada di dekat kulkas, 2 langkah dari kasur. Begitu Ncen diangkat dan dipindahkan ke sofa, Ncen benar-benar lemas! Tidak menggerakan satu bagian tubuh pun! Dengan tatapan mata yang kosong. Kurang lebih, seperti inilah tatapan kosongnya :

this is when he was about 2 years old

Sekitar jam 04 wib (di tempat saya berarti jam 05 wita, dan saya sedang menelpon balik), saya benar-benar tidak bisa menahan diri. Tuhan, cobaan apa lagi yang akan terjadi?? Saya mendengar dengan jelas melalui telepon bagaimana Ncen teriak seperti dicekik. Tiga menit awal saya menelepon, tiba-tiba Ncen pee lagi TANPA merubah posisi tubuhnya yang sedang terbaring, tanpa mengeong, dengan mata yang masih terbelalak kosong. Telepon saya tutup karena Kk mau membersihkan pee Ncen.

Begitu saya telepon kembali, seluruh tubuh Ncen sudah kejang-kejang. Bola mata Ncen tetap membesar tanpa ada reaksi apapun terhadap sentuhan. Saya teringat cerita teman yang memelihara kucingnya yang buta karena tertabrak. Kk meminta kepada saya untuk ikhlas, jika sampai ada sesuatu yang buruk terjadi.

Sekitar jam 6 wib, Kk bawa Ncen ke dokter hewan terdekat. Tapi ternyata baru akan buka jam 09 wib. Dari hasil browsing internet, klinik yang lain pun buka di jam yang sama. Malah ada yang harus dengan perjanjian terlebih dahulu. Geramnya saya saat itu. Kk kembali pulang, kemudian meminta ijin untuk tidur sebentar menghilangkan lelah usai aktivitas di kantor, dan baru tidur 2 jam. Ncen dibaringkan di tempat tidur, di sisi Kk.

Kepala saya pening, dada sesak, seluruh badan saya dingin luar biasa. Tak henti-hentinya saya menangis dan berdoa. Saya merasa bersalah karena meninggalkan Ncen ke luar kota. Sudah 7 bulan saya tinggalkan. Saya merasa membuat Ncen kesepian, kurang kasih sayang dan perlindungan.  Bahkan saya tidak ada disampingnya di hari yang mungkin menjadi hari terakhirnya di dunia. Ini foto terakhir yang saya ambil melalui web-cam beberapa bulan sebelumnya :

he looked healthy, but he was not.

Satu jam kemudian, suami saya menghubungi. Kk kembali terbangun karena Ncen jatuh ke sofa di bawah kasur, dengan tangan yang menggapai-gapai seolah mencari Kk. Di situlah Kk memastikan bahwa Ncen buta. Ncen kembali meraung-raung, dan berhenti setelah Kk meraihnya kembali. “Yes, i’m here, sweetheart…” mungkin itu yang Kk ucapkan. Kepanikan Ncen berangsur hilang dalam pelukan Kk. Dan ternyata, kejang-kejang itu tidak juga berhenti. Mata pun masih terbelalak kosong. Hanya teriakannya yang kemudian berubah menjadi erangan pelan, seakan berbicara sesuatu pada Kk. Pedih rasanya dengar erangan Ncen di telepon. Erangan itu terus dilakukan.

Jam 8.30 wib, kaki-kaki Ncen sudah kaku, terasa sudah mati sebelah. Saya bilang sama Ncen, “Ncen, tahan ya sayang, setengah jam lagi.. dokternya buka setengah jam lagi…”

Jam 9.56 wita, saya telepon klinik tersebut. Sudah buka. Kk segera kembali ke sana. Tapi terpaksa menunggu. Sudah ada antrian dua orang yang lebih dulu datang. Sebelum tiba giliran Kk, sekitar 15 menit kemudian, Ncen menghembuskan nafas terakhir. Lidahnya menjulur. Tekanan darah saya seakan mencapai 180. Sesak rasanya.

Penasaran ingin tahu penyebab kematiannya yang sangat mendadak, Kk tetap mengantri. Setelah di dalam ruang periksa, dokter mengatakan bahwa Ncen terserang virus FIV. Kalaupun Ncen hidup, malah menderita. Opini dokter membuatku sedikit lebih ikhlas.

Feline Immunodeficiency Virus, ternyata adalah virus mematikan penyebab AIDS pada kucing. FIV terdapat diseluruh dunia dan sekitar 1.5-3 % kucing di USA terinfeksi penyakit ini. Sekitar 5% kucing yang positif FIV juga menderita penyakit Feline Leukemia Virus (FeLV). Lebih dari 50 % kucing yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sakit sedikit pun selama beberapa tahun. Sekitar 20 % kucing yang terinfeksi FIV mati dalam waktu 2 tahun. Umumnya kucing mati dalam waktu 4-6 tahun setelah virus masuk dan menginfeksi tubuh. Seperti juga HIV pada manusia, sampai saat ini belum ditemukan obat yang benar-benar efektif melawan FIV. Sampai saat ini vaksin Feline Immunodeficiency Virus (FIV) belum ditemukan. Anoreksia adalah salah satu gejalanya. Sekarang barulah saya mengerti, kenapa Ncen tidak kunjung gemuk meski makannya banyak.

Dokter menanyakan apakah Ncen mau diotopsi. Tapi dicegah oleh suami saya karena Kk tidak tega melihat tubuh Ncen dipotong-potong. Ncen dikuburkan di depan rumah, yang sampai hari ini belum saya datangi.

Seketika saya kehilangan selera makan. Demam, pening, mual, sesak, tangis, terus menyerang tanpa henti. Saya coba lawan dengan bertasbih.

Sebagian besar orang mungkin tidak mengerti. Mereka mentertawakan bagaimana saya sedemikian rupa bersedih hanya karena kematian seekor kucing. Mereka tidak dapat merasakan. Tapi saya pun masih punya teman-teman yang bisa ikut merasakan dan memahami. Saya sangat menghargai belasungkawa yang mereka ucapkan.

with Kk, my husband

Keesokannya, saya paksakan diri saya untuk bangkit. Saya pergi ke bioskop untuk menonton tiga judul film festival Prancis. Hari-hari berikutnya saya paksakan untuk terus berdiri melanjutkan tujuan saya datang ke Bali. Meski air mata itu masih mengalir sampai hari ini, dan entah sampai kapan, luka itu tidak boleh menghambat saya untuk segera menyelesaikan studi saya. Masih satu tahun lagi saya harus tinggal di kampung orang.

Saya semakin bisa tersenyum ikhlas ketika suami saya bilang “Ncen dah ga sakit lg. Ncen pasti maafin bunda. Ncen pasti sayang bunda. Ncen dah maen ma kucing2 mu yang lain kali sekarang. Udah ketemu semua. Lagi ngomongin kamu. Lagi tukeran cerita.” Motivasi ini yang selalu saya pegang. Juga motivasi dari teman saya, seorang dosen agama yang begitu membuat saya tenang.

with me

Ketika hari ke-8 setelah kematian Ncen, Kk bilang “Sedih ih, bau Ncen udah ilang. Dia udah benar-benar pergi.” Ugh, rasanya pedih sekali. Tapi saya berterima kasih sekali kepada suami saya yang terus menemani Ncen sampai nafas terakhir. Tak terbayangkan kondisi jiwanya yang mungkin jauh lebih tergoncang karena menyaksikan secara langsung. Kehilangan “anak” yang selama ini menemaninya, di segala macam kondisi. Tapi sesungguhnya Tuhan tau, saya tidak akan sanggup bila ikut menyaksikan proses kematian Ncen. Saya tidak tau apakah saya akan senang atau sedih ketika nanti melihat anak Ncen yang sekarang sedang dipelihara sepupu saya, karena bulunya sama persis dengan Ncen.

Di hari ke-10 ini, meski masih berduka, meski masih menangis, meski masih sesak, saya terus mencoba berdiri tegak. Dengan keyakinan bahwa Ncen sudah berada di pelukan Allah SWT. Saya harus melanjutkan langkah saya. Keluarga menanti saya pulang dengan membawa kebanggaan. Ya Rabb, mudahkanlah dan lancarkan segala urusanku…

Ncen, ayah sama bunda selalu sayang Ncen. Selamat jalan, sayang…

3 years ago, found him sitting in the backyard, couple of days after i moved in to this house.

Ga Ngaruh

Hmm… keingetan wordpress. Dua taun ga diapa-apain. Sekarang pas ngotak-ngatik, tetep aja ga ngerti. Ga user friendly amat sih ni wordpress. Atau gw-nya aja yg kelewat oon kali yaa?

Padahal pengen rasanya ngembangin blog ini biar terkesan ky catatan idup gw.  Apalagi pasca meninggalnya ncen. Apalagi detik-detik keberangkatan menuju Perancis! hahaaa

Tp coba deh, gw otak-atik lagi. Klo mentok, saking bodohnya gw, mending gw delete permanently aja deh ni account. Ribettt.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.